Sabtu, 25 Juni 2011

Suara Caci-Maki Mengeluarkan Kalimat Benci Kepada Sebuah Ruang Kosong Tanpa Intuisi

Baiklah, saat ini sebuah kertas dengan sebuah pena hitam menemani saya di malam yang sebenarnya biasa-biasa saja seperti 6.955 malam-malam sebelumnya dimana itulah rentang waktu saya menjalani hidup ini semenjak saya dilahirkan dengan wajah yang sangat lucu dan berpipi merona merah sampai sekarang ini dengan wajah yang sangat kurang dari kata tampan dan tidak mungkin digilai oleh wanita jaman sekarang yang lebih menggunakan naluri daripada menggunakan mata hati.
 
Selama 6.955 hari saya hidup pula saya melihat berbagai macam 'Makhluk' (jika mereka layak disebut Makhluk) dalam mencari kepuasan dalam menjalani hidupnya. Hey, ini bukanlah tentang Harta, Cinta, Wanita Pria, Kasta, Rupa serta Kuasa.

 
Tangan 'kotor' saya kembali meneriakan isi hati saya untuk menuliskan semua yang saya anggap tak penting di sebuah kertas lusuh penuh coretan tolol dan sedikit tetesan darah lalu setitik nadi tergurat dan suara caci maki mengeluarkan kalimat benci kepada sebuah ruang kosong tanpa intuisi.

 
Satu dunia marah saat saya bilang bahwa dunia ini hanyalah sebuah ruang kecil yang penuh konspirasi dengan peraturan yang sama sekali tidak menyenangkan dan selebihnya hitam.

 
Hey engkau manusia yang yang berpikir egois, primitif dan terkadang mengaku idealis. Marilah kita duduk dalam 1 meja untuk membicarakan hukuman yang tepat buatmu dan marilah kita bersulang dengan meminum segelas anggur dan menghisap sebuah lisong disertai suara teriakan yang sangat menyakitkan & penuh tangisan beraroma kematian. Dalam sekejap kau menyadari bahwa mimpi-mu menjadi makhluk abadi hanyalah rekayasa tuhan semata dan setiap mimpi yang kau urai akan menjadi potongan kecil sebuah puisi kematian yang hakiki dan tanpa kompromi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar