Sekitar seminggu yang lalu ketika saya menaiki bus jurusan Bogor-Depok pada pukul 23.00 malam, saya bertemu dengan seorang 'pengamen gila' yang sebenarnya berwajah rupawan. Beberapa lagu dia nyanyikan di bis yang telah usang tersebut. Entah apa judul lagu yang ia nyanyikan, yang jelas suaranya merdu dan enak didengar. Bukan hanya lagu yang ia nyanyikan, beberapa bait puisi juga ia padukan dengan permainan gitarnya yang cukup ciamik. Akan tetapi ketika ia sedang berpuisi, ia seperti kerasukan setan dan ia tertawa layaknya hantu di film-film horor. Semua penumpang di bus tersebut heran, saya pun hanya melihat dengan tatapan "planga-plongo". Lalu ia berkata (atau mungkin roh halus yang di dalam tubuhnya yang berkata), "Saya memang pengamen tapi tolong jangan samakan mengamen dengan mengemis. Saya tak pernah marah diibaratkan sebagai sandal jepit, biar diinjak-injak tetapi ada gunanya juga. Kalau anda menganggu saya, jangan salahkan saya jika anda masuk rumah sakit".
Jika tarif angkutan kota (AngKot) tidak mahal seperti sekarang ini, mungkin saya setiap hari menaiki angkot demi menyaksikan pesan-pesan penuh moral dari seniman jalanan alias pengamen. *Cheers
Jika tarif angkutan kota (AngKot) tidak mahal seperti sekarang ini, mungkin saya setiap hari menaiki angkot demi menyaksikan pesan-pesan penuh moral dari seniman jalanan alias pengamen. *Cheers





