Kamis, 29 Desember 2011

Pengamen Gila dan Sandal Jepit

Sekitar seminggu yang lalu ketika saya menaiki bus jurusan Bogor-Depok pada pukul 23.00 malam, saya bertemu dengan seorang 'pengamen gila' yang sebenarnya berwajah rupawan. Beberapa lagu dia nyanyikan di bis yang telah usang tersebut. Entah apa judul lagu yang ia nyanyikan, yang jelas suaranya merdu dan enak didengar. Bukan hanya lagu yang ia nyanyikan, beberapa bait puisi juga ia padukan dengan permainan gitarnya yang cukup ciamik. Akan tetapi ketika ia sedang berpuisi, ia seperti kerasukan setan dan ia tertawa layaknya hantu di film-film horor. Semua penumpang di bus tersebut heran, saya pun hanya melihat dengan tatapan "planga-plongo". Lalu ia berkata (atau mungkin roh halus yang di dalam tubuhnya yang berkata), "Saya memang pengamen tapi tolong jangan samakan mengamen dengan mengemis. Saya tak pernah marah diibaratkan sebagai sandal jepit, biar diinjak-injak tetapi ada gunanya juga. Kalau anda menganggu saya, jangan salahkan saya jika anda masuk rumah sakit".

Jika tarif angkutan kota (AngKot) tidak mahal seperti sekarang ini, mungkin saya setiap hari menaiki angkot demi menyaksikan pesan-pesan penuh moral dari seniman jalanan alias pengamen. *Cheers

Rabu, 28 Desember 2011

Liburan yang Amatir :)

Beberapa hari yang lalu saya beserta 3 teman saya yaitu Hendra dan Hendri Asrifin serta Sigit Artiko Aji pergi ke sebuah gunung bernama gunung Pangrango. Perjalanan dimulai pada pukul 15.30 dengan pergi ke terminal Depok dan dilanjutkan dengan menaikin bus MGI tujuan Depok-Sukabumi. Jarak Depok-Sukabumi yang hampir 100km ditempuh dalam hampir 4 jam perjalanan. Kami tiba di Sukabumi pada pukul 8.00 dan segera sholat isya di mushola yang berada di pom bensin dekat pom bensin Sukabumi. Berhubung waktu sudah malam maka kami segera pergi ke Salabintana untuk mendaki. Awal perjalanan semua terkendali akan tetapi tiba-tiba di tengah hutan dan kegelapan malam senter yang menjadi sahabat kami malam itu tiba-tiba mati mendadak. Kami semua kaget dan mau tidak mau mau kami harus turun kembali.

Ketika tiba di Salabintana seorang remaja yang kira-kira sebaya dengan kami bilang bahwa jika malam hari biasanya yang lewat tempat kami mendaki tadi akan "dijahili" oleh makhluk halus yang berada di sekitar hutan tersebut. Setelah bersusah-payah akhirnya kami tiba di sebuah Camping Ground dan segera membangun tenda supaya kami dapat segera beristirahat. Waktu menunjukan pukul 12.30 dinihari dan tempat kami mendirikan tenda sangat gelap gulita. Bermodal parafin dan beberapa kayu bakar maka kami ber-empat segera membuat api unggun agar mendapatkan penerangan. Baru beberapa menit parafin terbakar maka hal yang kami takutkan terjadi, hujan membasahi rumput dan juga api unggun kami. kami-pun mendirikan tenda hanya dengan bermodalkan senter kecil dari handphone Hendri.

Tenda telah berdiri dan semua barang telah tersusun rapi di dalam tenda maka hal selanjutnya yang kami lakukan adalah membuat makanan. Roti yang kami beli di terminal segera habis dalam beberapa menit dan kopi yang menemani roti tersebut-pun menjadi sahabat setia menunggu malam yang mencekam tersebut.

Beberapa foto yang berhasil kami ambil ketika matahari menampakan batang hidungnya dan menghapus suasana gelap yang mencekam :D

Pagi hari yang cerah berbanding terbalik dengan malam hari yang mencekam


Proses mendirikan tenda yang sia-sia karena tenda yang kami pakai bocor dan air membanjiri tenda kami

Mandi (Di sungai), Dingin dan penuh ranjau (Pacet)
Hewan yang menjadi musuh ketika berada di tengah hutan