Senin, 27 Februari 2012

Jejaring Sosial

Jejaring Sosial. Yap, ratusan juta orang di muka bumi ini mungkin mempunyai jejaring sosial. Entah itu friendster, facebook ataupun twitter yang sedang sangat booming saat ini. Tidak saya pungkiri saya-pun mempunyai jejaring sosial. Awal mula situs jejaring sosial yang saya miliki adalah friendster lalu berkembang menjadi facebook dan akun jejaring sosial saat ini yang saya pergunakan adalah twitter. Pernahkah tersadar anda ketika anda "memainkan" jejaring sosial tersebut anda akan mencari lawan jenis yang secara penampilan menarik. Walaupun yang anda lihat di jejaring sosial hanya berbentuk foto akan tetapi terkadang rasa penasaran terhadap orang tersebut membuat kita "mem-follow" atau "nge-add" (betul ga tuh tulisannya kaya gitu?) orang tersebut.

Saya bukanlah tipe orang yang suka mem-follow atau nge-add perempuan-perempuan cantik di jejaring sosial. Alasannya simpel, yang pertama adalah saya merasa penampilan saya kurang dapat menarik perempuan-perempuan cantik di jejaring sosial tersebut. Alasan kedua adalah saya malas follow atau add mereka sebab saya tidak kenal dengan mereka. Simpel kan. Beberapa bulan yang lalu ada seorang perempuan di twitter yang menarik perhatian saya. Ya, sangat menarik perhatian saya. Perempuan cantik berambut panjang itu adalah sepupu teman kuliah saya. Awalnya saya tertarik karena wajahnya yang cantik, tetapi lama-kelamaan saya lupa dengan wajah cantiknya dan lebih fokus pada tweet-tweet yang ia buat di jejaring sosial tersebut. Ia selalu nge-tweet dengan kata-kata yang lucu ataupun terkadang cerdas.

Lucu, ketika seorang yang tidak kita kenal dapat menarik perhatian kita. Lucu karena hal itu terjadi di jejaring sosial dan bukan terjadi di dunia nyata. Lebih dari sekedar lucu bahkan aneh ketika kata-kata ternyata lebih menarik dibandingkan wajah yang cantik ataupun tubuh yang seksi. Entah saya menulis apa, saya juga tidak tahu. Saya dalam pengaruh minuman yang ternyata mengandung alkohol. Maaf saya meracau malam ini.

 

Ketika Kreatifitas Dikebiri

Saya adalah supporter sepakbola. Beberapa tahun belakangan ini ketika saya menyaksikan pertandingan sepakbola antara Persija Jakarta melawan tim dari daerah manapun selalu identik dengan adanya red flare ataupun giant flag di tribun penonton. Bagi pihak keamanan red flare adalah hal yang membahayakan. Walaupun seperti petasan akan tetapi red flare tidaklah sama dengan petasan. Benda ini tidak "meletus" seperti petasan. Bagaimana dengan giant flag? Sebelas-dua belas dengan red flare, benda ini juga dilarang oleh pihak keamanan. Alasannya simpel, tiang-tiang tidak boleh masuk ke dalam stadion karena dapat digunakan sebagai alat untuk tawuran. Aneh!

Wahai pak polisi, percayalah, kami ini telah dewasa. Kami takkan berbuat rusuh di rumah kami sendiri. Kami hanya ingin berkreatifitas dan membuat atmosfer pertandingan semakin meriah dengan adanya red flare maupun giant flag. Jika sekarang giant flag dan red flare dilarang, mungkin esok hari menyanyikan chant, memakai atribut Persija atau bahkan bernafas di dalam stadion akan dilarang juga.

PYRO IS NOT CRIME!


Minggu, 05 Februari 2012

Ini Cerita Dari Sebuah Kampung Antah-Berantah

Kemarin malam saya dan ketiga teman saya duduk-duduk di warung kopi & mie gaul “Pak Gembong” untuk sekedar membahas dan bertukar informasi tentang isu-isu yang terjadi di kampung saya. Berdasarkan informasi yang diceritakan teman saya, suasana kampung tetep aman dan kondusif. Mungkin dari sekitar 2 jam bertukar informasi hanya kampanye yang dilakukan calon ketua RW yang cukup menarik perhatian saya. Mengapa menarik perhatian saya? Selain karena pemilihan RW yang masih setengah tahun lagi, sang calon RW (mungkin bakal calon RW kata yang lebih tepatnya)meng-kampanye-kan dirinya dengan membagi-bagikan sayuran dan susu gratis. Menurut saya cara si bakal calon RW cukup unik & menarik. Yang saya tunggu adalah bagaimana cara kampanye bakal calon RW lainnya dalam meng-kampanye-kan dirinya masing-masing. Mungkin akan men-traktir nasi uduk dan ketupat sayur untuk sarapan ataupun juga membagikan sabun colek untuk sekedar mencuci baju ataupun mencuci piring.

Jika dipikir-pikir, hampir seumur hidup saya menghabiskan waktu saya di kampung ini. Di kampung ini saya menemukan teman-teman sebaya saya ketika masih kecil. Belajar menaiki sepeda, main petasan, ikut perlombaan memukul beduq, mandi di sungai yang keruh, bermain kelereng, bermain petak umpet ataupun berkelahi dengan teman saya seperti Ipung, Nurman ataupun Jaelani gara-gara hal sepele, semuanya saya lakukan di kampung ini.

Suasana kampung saya dulu dan sekarang ibarat dua bumi dan langit. Dulu ketika saya masih kecil, terdapat lapangan sepakbola yang tidak dapat dikatakan luas akan tetapi dapat menyalurkan hobi anak-anak kampung ini akan hobinya bermain sepakbola. Dulu, di kampung ini, belum banyak rumah. Bandingkan dengan sekarang. Lapangan bola kebanggaan anak-anak kampung ini digusur dan segera berganti dengan rumah kontrakan dimana-mana. Rumah-rumah baik semi permanen ataupun permanen telah “menjajah” kampung ini. Mereka memang menggusur lapangan sepakbola kami, akan tetapi mereka tidak dapat menghapus kenangan kami terhadap lapangan tersebut. Mungkin beginilah resiko hidup di kota besar, semua orang membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk sang pemilik tanah lapangan sepakbola kebanggaan kampung ini.

Dulu yang tinggal di kampung ini hanyalah “orang-orang asli” kampung ini. Pak Kijan, Bang Melih, Mak Anih, Bang Saman, Bu Juju, Pak Boji, Bang Misan, Engkong Si’in, Engkong Pian, Uwa Bebek, Bang Misin, Mak Imah, Mpok Nori, Mak Anong adalah beberapa tetua atau yang paling lama tinggal di kampung saya. Beberapa dari mereka yang saya sebutkan tadi sudah almarhum dan meninggalkan kami (anak dan cucu mereka)di kampung tercinta ini. Dulu, di kampung ini hanya ada dua warung ataupun toko kelontong yang dapat dikatakan besar. Warung pertama dimiliki oleh Om Batak. Kami memanggilnya om batak dikarenakan asalnya yang memang dari daerah batak dan memiliki logat layaknya orang batak. Warung yang kedua adalah milik Om Sholah. Warungnya terletak di dekat mesjid kampung ini. Keduanya masih membuka usaha warung mereka sampai saat ini. (Semoga mereka selalu sukses dengan usahanya masing-masing).

Sampai sekarang ini hampir semua teman-teman saya ketika masih kecil dulu masih bertempat tinggal di kampung ini. Jika kami bertemu ataupun sekedar “nongkrong” maka kami akan membahas masa kecil kami yang menyenangkan dan penuh keceriaan.Andaikan ada mesin waktu, saya ingin memutar waktu kembali ke masa-masa ketika saya masih kecil dulu.

Nanti akan saya sisipkan foto untuk menggambarkan suasana di kampung saya, ditunggu saja ya :)

Tulisan ini ditujukan untuk: Very, Mahmud, Niko, Jaelany, Nurman, Liyah, Esu, Emis, Engkus, Ricky, Ipung, Fanny, Adam, Kaka, Dede, Hasby, Saddam, Pandji, Pandu, Tony, Wahyu, Dina, Aceng, Michael a.k.a Mekel, Nurul, Alm Bang Dayat, Bang Iwan, dan semuanya yang tidak dapat saya sebutkan satu-persatu. Terima kasih karena membuat masa kecil saya begitu menjadi indah dan percayalah bahwa kalian akan berada di relung hati saya selamanya. Cheers

Kamis, 02 Februari 2012

Entah Ini Namanya Anti Kapitalis atau Apalah Namanya. Saya Tidak Peduli !!!

Anda tahu Mall? Bagi sebagian orang mall merupakan tempat yang menyenangkan. Anda butuh hiburan? Di mall tersedia lengkap. Anda mau makan? Di mall tersedia berbagai jenis makanan dari berbagai negara. Anda mau berbelanja? Wow, mall akan memanjakan mata anda dengan berbagai jenis barang yang tentunya akan menguras uang anda.

Jika kebanyakan anak muda suka berbelanja ataupun menghabiskan waktu di mall, saya justru sebaliknya. Aneh memang (Yap, saya memang anak aneh). Jika teman-teman saya suka makan di mall, saya lebih suka makan di warung kaki lima. Jika teman-teman saya suka menghabiskan waktu di mall, saya lebih suka menghabiskan waktu di taman-taman kota ataupun tempat yang bernuansa alam. Jika saya ingin bernyanyi, saya cukup bernyanyi di kamar mandi dan tidak perlu pergi ke mall untuk menyanyikan lagu favorit saya (baca: karaoke).

Sebenarnya bukan hanya mall yang saya tak suka. Saya juga agak tidak suka dengan segala macam tempat yang kini dianggap gaul oleh anak muda di Jakarta. Seve* Eleve*, Ci*cle K, Star*uck dan segala jenisnya itu. Bagi saya makan warteg ataupun warung kaki lima lebih menyenangkan. Mengapa saya berpikir seperti ini? Di mindset saya mereka yang suka "hinggap" di tempat seperti itu adalah budak kapitalisme. Saya bukan mahasiswa pintar. Entahlah apa hubungannya tempat gaul itu dengan kapitalisme. Saya tak peduli dianggap norak, kolot ataupun bodoh. Saya hanya ingin menghindari pola hidup konsumtif atau mungkin lebih tepatnya disebut dengan pola hidup "hura-hura atau kebanyakan gaya". :D