Kemarin malam saya dan ketiga teman saya duduk-duduk di warung kopi & mie gaul “Pak
Gembong” untuk sekedar membahas dan bertukar informasi tentang isu-isu yang
terjadi di kampung saya. Berdasarkan informasi yang diceritakan teman saya,
suasana kampung tetep aman dan kondusif. Mungkin dari sekitar 2 jam bertukar
informasi hanya kampanye yang dilakukan calon ketua RW yang cukup menarik
perhatian saya. Mengapa menarik perhatian saya? Selain karena pemilihan RW yang
masih setengah tahun lagi, sang calon RW (mungkin bakal calon RW kata yang
lebih tepatnya)meng-kampanye-kan dirinya dengan membagi-bagikan sayuran dan
susu gratis. Menurut saya cara si bakal calon RW cukup unik & menarik. Yang
saya tunggu adalah bagaimana cara kampanye bakal calon RW lainnya dalam meng-kampanye-kan
dirinya masing-masing. Mungkin akan men-traktir nasi uduk dan ketupat sayur
untuk sarapan ataupun juga membagikan sabun colek untuk sekedar mencuci baju
ataupun mencuci piring.
Jika
dipikir-pikir, hampir seumur hidup saya menghabiskan waktu saya di kampung ini.
Di kampung ini saya menemukan teman-teman sebaya saya ketika masih kecil. Belajar
menaiki sepeda, main petasan, ikut perlombaan memukul beduq, mandi di sungai
yang keruh, bermain kelereng, bermain petak umpet ataupun berkelahi dengan
teman saya seperti Ipung, Nurman ataupun Jaelani gara-gara hal sepele, semuanya
saya lakukan di kampung ini.
Suasana
kampung saya dulu dan sekarang ibarat dua bumi dan langit. Dulu ketika saya
masih kecil, terdapat lapangan sepakbola yang tidak dapat dikatakan luas akan
tetapi dapat menyalurkan hobi anak-anak kampung ini akan hobinya bermain
sepakbola. Dulu, di kampung ini, belum banyak rumah. Bandingkan dengan
sekarang. Lapangan bola kebanggaan anak-anak kampung ini digusur dan segera berganti
dengan rumah kontrakan dimana-mana. Rumah-rumah baik semi permanen ataupun
permanen telah “menjajah” kampung ini. Mereka memang menggusur lapangan
sepakbola kami, akan tetapi mereka tidak dapat menghapus kenangan kami terhadap
lapangan tersebut. Mungkin beginilah resiko hidup di kota besar, semua orang
membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk sang pemilik tanah
lapangan sepakbola kebanggaan kampung ini.
Dulu yang tinggal
di kampung ini hanyalah “orang-orang asli” kampung ini. Pak Kijan, Bang Melih,
Mak Anih, Bang Saman, Bu Juju, Pak Boji, Bang Misan, Engkong Si’in, Engkong
Pian, Uwa Bebek, Bang Misin, Mak Imah, Mpok Nori, Mak Anong adalah beberapa
tetua atau yang paling lama tinggal di kampung saya. Beberapa dari mereka yang
saya sebutkan tadi sudah almarhum dan meninggalkan kami (anak dan cucu
mereka)di kampung tercinta ini. Dulu, di kampung ini hanya ada dua warung
ataupun toko kelontong yang dapat dikatakan besar. Warung pertama dimiliki oleh
Om Batak. Kami memanggilnya om batak dikarenakan asalnya yang memang dari
daerah batak dan memiliki logat layaknya orang batak. Warung yang kedua adalah
milik Om Sholah. Warungnya terletak di dekat mesjid kampung ini. Keduanya masih
membuka usaha warung mereka sampai saat ini. (Semoga mereka selalu sukses
dengan usahanya masing-masing).
Sampai
sekarang ini hampir semua teman-teman saya ketika masih kecil dulu masih
bertempat tinggal di kampung ini. Jika kami bertemu ataupun sekedar “nongkrong”
maka kami akan membahas masa kecil kami yang menyenangkan dan penuh keceriaan.Andaikan
ada mesin waktu, saya ingin memutar waktu kembali ke masa-masa ketika saya
masih kecil dulu.
Nanti akan saya sisipkan foto untuk menggambarkan suasana di kampung saya, ditunggu saja ya :)
Tulisan ini
ditujukan untuk: Very, Mahmud, Niko, Jaelany, Nurman, Liyah, Esu, Emis, Engkus,
Ricky, Ipung, Fanny, Adam, Kaka, Dede, Hasby, Saddam, Pandji, Pandu, Tony,
Wahyu, Dina, Aceng, Michael a.k.a Mekel, Nurul, Alm Bang Dayat, Bang Iwan, dan
semuanya yang tidak dapat saya sebutkan satu-persatu. Terima kasih karena membuat
masa kecil saya begitu menjadi indah dan percayalah bahwa kalian akan berada di
relung hati saya selamanya. Cheers