Minggu, 05 Februari 2012

Ini Cerita Dari Sebuah Kampung Antah-Berantah

Kemarin malam saya dan ketiga teman saya duduk-duduk di warung kopi & mie gaul “Pak Gembong” untuk sekedar membahas dan bertukar informasi tentang isu-isu yang terjadi di kampung saya. Berdasarkan informasi yang diceritakan teman saya, suasana kampung tetep aman dan kondusif. Mungkin dari sekitar 2 jam bertukar informasi hanya kampanye yang dilakukan calon ketua RW yang cukup menarik perhatian saya. Mengapa menarik perhatian saya? Selain karena pemilihan RW yang masih setengah tahun lagi, sang calon RW (mungkin bakal calon RW kata yang lebih tepatnya)meng-kampanye-kan dirinya dengan membagi-bagikan sayuran dan susu gratis. Menurut saya cara si bakal calon RW cukup unik & menarik. Yang saya tunggu adalah bagaimana cara kampanye bakal calon RW lainnya dalam meng-kampanye-kan dirinya masing-masing. Mungkin akan men-traktir nasi uduk dan ketupat sayur untuk sarapan ataupun juga membagikan sabun colek untuk sekedar mencuci baju ataupun mencuci piring.

Jika dipikir-pikir, hampir seumur hidup saya menghabiskan waktu saya di kampung ini. Di kampung ini saya menemukan teman-teman sebaya saya ketika masih kecil. Belajar menaiki sepeda, main petasan, ikut perlombaan memukul beduq, mandi di sungai yang keruh, bermain kelereng, bermain petak umpet ataupun berkelahi dengan teman saya seperti Ipung, Nurman ataupun Jaelani gara-gara hal sepele, semuanya saya lakukan di kampung ini.

Suasana kampung saya dulu dan sekarang ibarat dua bumi dan langit. Dulu ketika saya masih kecil, terdapat lapangan sepakbola yang tidak dapat dikatakan luas akan tetapi dapat menyalurkan hobi anak-anak kampung ini akan hobinya bermain sepakbola. Dulu, di kampung ini, belum banyak rumah. Bandingkan dengan sekarang. Lapangan bola kebanggaan anak-anak kampung ini digusur dan segera berganti dengan rumah kontrakan dimana-mana. Rumah-rumah baik semi permanen ataupun permanen telah “menjajah” kampung ini. Mereka memang menggusur lapangan sepakbola kami, akan tetapi mereka tidak dapat menghapus kenangan kami terhadap lapangan tersebut. Mungkin beginilah resiko hidup di kota besar, semua orang membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk sang pemilik tanah lapangan sepakbola kebanggaan kampung ini.

Dulu yang tinggal di kampung ini hanyalah “orang-orang asli” kampung ini. Pak Kijan, Bang Melih, Mak Anih, Bang Saman, Bu Juju, Pak Boji, Bang Misan, Engkong Si’in, Engkong Pian, Uwa Bebek, Bang Misin, Mak Imah, Mpok Nori, Mak Anong adalah beberapa tetua atau yang paling lama tinggal di kampung saya. Beberapa dari mereka yang saya sebutkan tadi sudah almarhum dan meninggalkan kami (anak dan cucu mereka)di kampung tercinta ini. Dulu, di kampung ini hanya ada dua warung ataupun toko kelontong yang dapat dikatakan besar. Warung pertama dimiliki oleh Om Batak. Kami memanggilnya om batak dikarenakan asalnya yang memang dari daerah batak dan memiliki logat layaknya orang batak. Warung yang kedua adalah milik Om Sholah. Warungnya terletak di dekat mesjid kampung ini. Keduanya masih membuka usaha warung mereka sampai saat ini. (Semoga mereka selalu sukses dengan usahanya masing-masing).

Sampai sekarang ini hampir semua teman-teman saya ketika masih kecil dulu masih bertempat tinggal di kampung ini. Jika kami bertemu ataupun sekedar “nongkrong” maka kami akan membahas masa kecil kami yang menyenangkan dan penuh keceriaan.Andaikan ada mesin waktu, saya ingin memutar waktu kembali ke masa-masa ketika saya masih kecil dulu.

Nanti akan saya sisipkan foto untuk menggambarkan suasana di kampung saya, ditunggu saja ya :)

Tulisan ini ditujukan untuk: Very, Mahmud, Niko, Jaelany, Nurman, Liyah, Esu, Emis, Engkus, Ricky, Ipung, Fanny, Adam, Kaka, Dede, Hasby, Saddam, Pandji, Pandu, Tony, Wahyu, Dina, Aceng, Michael a.k.a Mekel, Nurul, Alm Bang Dayat, Bang Iwan, dan semuanya yang tidak dapat saya sebutkan satu-persatu. Terima kasih karena membuat masa kecil saya begitu menjadi indah dan percayalah bahwa kalian akan berada di relung hati saya selamanya. Cheers

Tidak ada komentar:

Posting Komentar