Selasa, 11 September 2012

Prinsip Hidup Yang Rancu

Saya pernah menuliskan status begini di facebook, "Antara terlalu sabar mencakup terlalu baik dan digoblok-goblokin itu beda tipis lho". Kasarkah? Yap, menurut saya begitu.

Sering saya mikir begini jika lagi di kamar dan dalam suasana gelap, "Apa iya harus selalu baik sama semua orang? Padahal banyak orang sms atau telepon kalo lagi ada butuhnya doang. Salah ya kalo berbuat baik sama semua orang? Kalo lo mengharapkan orang nge-baik-in lo lagi, lo sama aja berharap pamrih dong sama orang yang lo baikin?" Astagaaaaa...

Sebagian orang bilang begini, "Berbuat baiklah sama semua orang, apapun balasannya nanti ya terima aja". Ada lagi yang bilang begini, "Gue sih mau berbuat baik sama orang yang baik sama gue aja. Ngapain berbuat baik sama orang yang ngga baik sama kita? Palsu orang-orang yang kaya begitu".

Meh, dalam kondisi penuh kebingungan ini saya sih mikirnya saya itu orangnya kelewat sabar makanya jadinya sering digoblok-goblokin orang lain (maaf kata-katanya kasar, kata itu yang menurut saya paling pas soalnya). Iya, digoblok-goblokin! Nerima aja gitu apa yang orang lain suruh dan katakan. Karena saya orangnya cenderung menghindari konfrontasi jadinya saya anggap itu semua cuma "ke-khilaf-an" orang itu aja. Prinsip hidup yang "anggap aja semua yang terjadi itu sebagai bumbu kehidupan" sekarang jadi rancu. Aneh kalo didenger. Saya akui saya orangnya pengecut, kalo ada apa-apa disimpan di hati pastinya. Tapi yang jelas saya sekarang tau harus berbuat apa terhadap mereka yang "datang" ketika ada maunya aja. Saya akan perlahan mundur lalu seketika menghilang. Menghilang selamanya.

Nb: Maaf tulisannya ngga penting, pengen curhat doang sih sebenarnya...


Senin, 03 September 2012

Prioritas

Begini ceritanya, kemarin malam teman gue nyeletuk begini ketika kami berenam (kelompok primer gue) sedang main kartu, “hidup gue kok ngurusin orang mulu ya dan lebih begonya gue lebih memperdulikan orang lain daripada diri gue sendiri? padahal yang dipeduliin belum tentu peduli sama gue. Sekarang aja ga peduli apalagi nanti kalo lagi dibutuhin.”


Allahu akbar, celetukannya sih nadanya datar tapi nyelekit dengernya (diberi hastag #jleb biar makin dramatis). Entah kenapa gue jadi mikir omongan si temen gue ini. Yang langsung terlintas di pikiran gue adalah sebagai berikut: “Manakah yang harus didahulukan, kesenangan orang banyak (sepik, kesenangan orang yang lagi dimodusin kali?) atau kesenangan diri sendiri?”. Sampe sekarang pertanyaan sesederhana itu belum bisa gue jawab men! Hebat bukan?!


Di umur yang sudah lebih dari 20 tahun ini maka yang harus jadi prioritas adalah? Tolong dibantu ya…

Rabu, 22 Agustus 2012

Kamu Itu Semu, Apakah (benar) Begitu?

Aku tahu bahwa kalian adalah benda mati. Akupun tahu kalian merupakan dua benda mati terpenting bagi sebagian orang. Fungsi utama kalian yang awalnya (hanya) untuk alat pembayaran dan alat berkomunikasi kini telah bergeser. Aku tak menampik bahwa dengan adanya kalian hidup lebih berwarna. Tapi, kalian hanyalah benda mati. Bagiku kalian itu semu. Apakah tanpa kehadiran kalian aku bisa "hidup sehidup-hidupnya hidup"?! Bagi sebagian orang mungkin kalian adalah tuhan tapi bagiku, kalian tetaplah benda mati. Aku mungkin kolot tapi aku mencoba agar benda mati macam kalian tak pernah "mengatur" kebahagiaanku, juga hidupku.

-Terima kasih untuk bersabar sampai aku tahu bahwa hal-hal terbaik dalam hidup tidak memerlukan uang, 9 Naga-

Nb: Maaf, karena terlalu banyak mengulang kata "kalian" dan "sebagian orang". :))



Klise !!

Kita akan berjalan bersama lagi sambil bersendau gurau.
Dengan menaiki motor bututku yang berwarna merah atau yang biru, kita akan berjalan-jalan tanpa arah dan tujuan.
Melewati lampu merah dan pekatnya asap metromini di jalan Margonda.
Berbicara dengan suara yang parau ketika kita melewati sekumpulan pengamen yang sedang bernyanyi di angkutan umum D11.

Kita akan melewati gang-gang sempit kita menuju ke arah Cijantung.
Tertawalah kita lepas di tengah keramaian.
Di Cijantung kita melewati sebuah Plaza, inginkah kau mau masuk sayang?
Dirimu berkata ingin masuk ke dalamnya akan tetapi idealisme-ku berkata tidak agar kita menyadari bahwa kita bukan korban kapitalis, seperti mereka yang berada di dalam Plaza tersebut.

Waktu menunjukan pukul 5 sore wanitaku, mari kita ke tujuan terakhir untuk hari ini, tempat makan di sekitaran cibubur.
Dengan bermodalkan uang Rp. 25.000 kau memesan semua makanan yang kau suka dan bagiku kau tampak cantik saat kau sedang meminum minuman yang kau suka.
Saat matahari terbenam pulanglah kita.
Sesaat sebelum tiba di rumahmu kita terlebih dahulu mampir ke minimarket yang berjarak 100 meter dari rumahmu, kau membeli sebuah ice cream dan aku membeli sebungkus rokok.

Sesaat kita tiba di rumahmu dan kitapun sejenak berhenti lalu engkaupun memanjatkan doa yang akupun tak tau apa doamu, tapi doaku hanyalah agar Tuhan mendengar doamu dan semoga kau dan keluargamu selalu berbahagia.

Lalu, aku-pun langsung pulang tanpa pamit kepada orang tuamu.
Dengan memakai sweater hitam, celana jeans hitam serta sepatu kets hitam yang telah sobek aku-pun menyalahkan motor bututku untuk menuju rumahku di Depok Timur.
Dalam perjalanan pulang terngiang rambutmu yang sepinggang dan pipimu yang merona merah.

20 menit kemudian bunyilah handphone-ku dan mendapatimu mengirimiku pesan 'Selamat sore dan terima kasih atas waktumu hari ini'.

Untukmu, Inspirasiku: "Gadis Bermata Laut"



Sabtu, 18 Agustus 2012

Tamat

Harusnya selesai. Silahkan pergi.
Pergi sana. (Harusnya) aku tak peduli.
Selamat !! 


Jumat, 03 Agustus 2012

That's You

Hei perempuan bermata laut, harus kuakui aku membuat kesalahan.
Setelah kejadian itu, aku merasa bahwa aku ingin sendiri saja, menikmati langit, pepohonan dan dengan kupu-kupu yang terbang kesana-kemari. Diamkan aku beberapa hari ini, setelah siap akan kuhampirimu.

Sulit untuk tidak menyebut namamu di setiap doa.
Aku tahu ini abu-abu. Aku tahu ini sudah titik, bukan koma lagi. Apakah kau merasa bias?
Karena waktu tidak bisa bergerak mundur, haruskah pikiranku yang berjalan mundur?

Percayalah, ini memang sakit sekali tapi bukankah kebenaran terkadang menyakitkan?
Hidup terkadang tidak selalu manis.
 
Sembilan hari...

*Ditulis dengan perasaan ikhlas tingkat tinggi dan dalam pengaruh lagu First Breath After Coma-Explosions In The Sky*



Senin, 21 Mei 2012

Emosi

Percayalah. Berbicara dengan nada tinggi tidak akan membuat orang lain bersimpati atau membuat kita dihormati, malah menimbulkan antipati. Titik !!!



Minggu, 20 Mei 2012

Monopoli


Ketika anda tidak mempunyai pesaing maka ketika itulah saat bagi anda untuk menguasai atau mungkin kata yang lebih tepatnya me-monopoli apa yang bisa anda monopoli. Tanpa memperdulikan orang lain dan hanya demi sebuah benda kertas bernama uang serta berlatarbelakang keuntungan pribadi belaka kalian rela mencekik mereka yang sedang kehausan dan kelaparan. Ah. dunia tidak pernah berbaik hati kepada mereka yang senantiasa kekurangan uang. Keparat !!!

Sabtu, 12 Mei 2012

Tolong, Sepakbola Kami (Negeri Ini) Jangan Kalian Buat Hancur

Tak pernahkan kalian menyadari wahai PSSI dan KPSI apa yang telah kalian lakukan terhadap sepakbola negeri ini? Atas nama "kepedulian dan cinta" terhadap sepakbola tanah air, justru kalian hancurkan dan "ledakan" olahraga yang paling dicintai oleh ratusan juta rakyat negeri ini. Kami tidak pernah peduli siapapun ketua persatuan sepakbola negeri ini. Kami tidak pernah peduli Djohar Arifin beserta konco-konconya ataupun La Nyalla Mattalitti beserta antek-anteknya yang menjadi pemimpin sepakbola negeri ini. Bagi kami ini, sepakbola jauh lebih menarik apabila tanpa disertai perdebatan-perdebatan munafik kalian. Tolong jangan jadikan sepakbola kami sebagai alat mencari keuntungan dan ketenaran. Apakah kalian mengerti tuan-tuan yang terhormat?


Acara Televisi Itu...

Tolong cerahkan saya jika salah. Saya baru tersadar jika acara televisi di hari kerja (Senin-Jumat) itu lebih seru dan tidak membosankan dibanding hari libur Sabtu dan Minggu. Apakah hanya saya yang menyadari itu ataukah banyak orang diluar sana yang menyadarinya juga?