Kita akan berjalan bersama lagi sambil bersendau gurau.
Dengan menaiki motor bututku yang berwarna merah atau yang biru, kita akan berjalan-jalan tanpa arah dan tujuan.
Melewati lampu merah dan pekatnya asap metromini di jalan Margonda.
Berbicara dengan suara yang parau ketika kita melewati sekumpulan pengamen yang sedang bernyanyi di angkutan umum D11.
Kita akan melewati gang-gang sempit kita menuju ke arah Cijantung.
Tertawalah kita lepas di tengah keramaian.
Di Cijantung kita melewati sebuah Plaza, inginkah kau mau masuk sayang?
Dirimu
berkata ingin masuk ke dalamnya akan tetapi idealisme-ku berkata tidak
agar kita menyadari bahwa kita bukan korban kapitalis, seperti mereka
yang berada di dalam Plaza tersebut.
Waktu menunjukan pukul 5
sore wanitaku, mari kita ke tujuan terakhir untuk hari ini, tempat makan di sekitaran cibubur.
Dengan bermodalkan uang
Rp. 25.000 kau memesan semua makanan yang kau suka dan bagiku kau tampak cantik saat kau sedang meminum minuman yang kau suka.
Saat matahari terbenam pulanglah kita.
Sesaat
sebelum tiba di rumahmu kita terlebih dahulu mampir ke minimarket yang
berjarak 100 meter dari rumahmu, kau membeli sebuah ice cream dan aku
membeli sebungkus rokok.
Sesaat
kita tiba di rumahmu dan kitapun sejenak berhenti lalu engkaupun
memanjatkan doa yang akupun tak tau apa doamu, tapi doaku hanyalah agar
Tuhan mendengar doamu dan semoga kau dan keluargamu selalu berbahagia.
Lalu, aku-pun langsung pulang tanpa pamit kepada orang tuamu.
Dengan
memakai sweater hitam, celana jeans hitam serta sepatu kets hitam yang
telah sobek aku-pun menyalahkan motor bututku untuk menuju rumahku di
Depok Timur.
Dalam perjalanan pulang terngiang rambutmu yang sepinggang dan pipimu yang merona merah.
20
menit kemudian bunyilah handphone-ku dan mendapatimu mengirimiku pesan
'Selamat sore dan terima kasih atas waktumu hari ini'.
Untukmu, Inspirasiku: "Gadis Bermata Laut"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar