Sabtu, 24 September 2011

Surat Untuk Siti Marmah & Muhammad Taufik Sidik

Siti Marmah adalah seorang wanita yang menurut saya mempunyai sifat yang tegas akan tetapi sangat baik hati sekali. Orang inilah yang mengajarkan saya ketika saya masih sangat kecil bahwa perempuan adalah sebuah makhluk yang harus dilindungi dan tidak boleh disakiti (secara fisik seperti memukul dan sebagainya). Perempuan berumur 47 tahun ini selalu mengingatkan saya (dan semua anak laki-lakinya) jika emosi dan kekerasan bukanlah solusi utama menyelesaikan masalah. Baginya, kesabaran dan kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimanapun. Terkadang Siti Marmah adalah orang yang menyeramkan. Menjawil telinga dan mencubit dilakukannya ketika saya tidak mau belajar, terlalu banyak bermain dan juga tidak mau beribadah. Perempuan berambut keriting ini juga seorang guru yang hebat. Ketika saya kecil ia bisa membantu saya mengerjakan pekerjaan rumah saya. Siti Marmah adalah segalaaaaanya bagi saya. Tidak ada yang bisa menandingi kecantikannya bahkan Paris Hilton pun tidak dapat menandingi kecantikannya. Siti Marmah adalah seorang ibu yang perkasa. Walaupun saat ini ia sedang sakit, tidak menghalanginya untuk mencari nafkah supaya ketiga anaknya dapat meraih titel "Sarjana".

Muhammad Taufik Sidik, Seorang pensiunan pegawai negeri Departemen Pertanian yang menurut saya sangat pendiam. Dibanding ibu saya, bapak kelahiran menteng ini lebih kalem dan mampu mengontrol emosinya. Pria berkumis yang biasa dipanggil tetangga dengan nama panggilan "Topik" ini dulunya adalah pecandu rokok. Sampai sekarang saya tidak tau mengapa ia berhenti merokok. Muhammad Taufik Sidik adalah orang yang mengajarkan saya menaiki sepeda dan bermain kelereng. Ketika saya kecil, dia adalah orang yang menggendong saya ketika saya sakit dan selalu memaksa saya minum obat. Saat ini, saya dan Muhammad Taufik Sidik mempunyai hobi yang sama, hobi itu adalah mengurus ikan hias di dalam akuarium yang baru ia beli dari tetangga.

Terkadang percekcokan terjadi antara saya, Muhammad Taufik Sidik dan juga Siti Marmah. Awalnya semua memang saling keras kepala akan tetapi kesabaran Muhammad Taufik Sidik dan juga Siti Marmah ternyata mampu membuat emosi saya yang memang sekeras baja mampu luluh juga. Hey, Muhammad Taufik Sidik dan Siti Marmah. Cinta saya terhadap kalian tidak akan pernah bisa dihitung dalam bentuk materi. Kalian adalah pahlawan, setidaknya bagi saya ..



Jumat, 16 September 2011

Hujan

Hore hujaaaaaaan. Hujan, hujan, hujan. Hujan di malam akhir pekan merupakan kejadian yang menyenangkan. Semuanya terasa lapang. Entah apa hubungannya antara hujan dan kondisi fisik saya yang makin lama makin melemah. Walaupun hujannya sebentar tetapi cuaca dinginnya mampu membuat hidung saya mimisan. Yap, saya menyukai darah. Saya tak peduli orang lain berkata saya aneh akan tetapi memainkan cairan berwarna merah itu sangatlah menyenangkan. Menjadi semacam penumpahan emosi terhadap semua hal yang mengesalkan beberapa hari ini. Saya mau darah, lagi!

Senin, 12 September 2011

Reaksi Tanpa Aksi, Frustasi

Ternyata menyesakan ketika seorang wanita yang kau idam-idamkan untuk menjadi calon ibu bagi anak-anakmu mempunyai pilihan takdirnya sendiri.
Bagaimana manusia biasa seperti saya harus bereaksi, haruskah frustasi?
Apakah harus menyerah dan mengakui ketidak-tampanan saya pada dunia?
Sialan, Saya terjerembab pada sebuah kotak kaca bernama kegalauan.
Mengumpat

Minggu, 11 September 2011

I n d o n e s i a

Hai Dunia. Sudah lama kita tidak bersua. Apa kabarmu? Apakah tetap abnormal dan bermasalah seperti biasanya?

Beberapa hari belakangan ini saya sibuk sekali. Entah sibuk apa, mungkin menyibukan diri lebih tepatnya. Tidak ada yang ‘luar biasa’ minggu ini. Layaknya kemarin dan kemarinnya lagi semuanya seperti biasa saja alias datar. Akan tetapi walaupun datar semuanya tetap diiringi dengan senyum & gelak tawa dan itu semua tetaplah menyenangkan.

Sepertinya semesta berkonspirasi dengan stasiun televisi. Disaat saya ingin menghilangkan rutinitas saya yang penuh kebosanan itu dengan menonton televisi akan tetapi hasilnya adalah makin membuat saya bosan. Semua sama. Acara televisi tetap menyiarkan sinetron murahannya & tayangan kriminalitas yang sarat dengan adegan kekerasan, akan tetapi untunglah mereka berbaik hati menyiarkan acara favorit saya yaitu pertandingan sepakbola. Mereka maraton menyiarkan kualifikasi Euro 2012 dengan mempertandingkan beberapa Negara yang sepakbolanya memang sudah maju. Akan tetapi bukan itu yang saya tunggu, saya menunggu Negara tercinta ini bertanding melawan Bahrain. Faktor keuangan yang cekak ditambah penuhnya kegiatan beberapa hari ini membuat saya tidak bisa mendukung langsung ke stadion (Sialan). Dan semua tahu bahwa negeri ini kalah 0-2 dari Bahrain. Apakah saya kecewa? Jangan ditanyakan lagi. Mungkin 230 juta rakyat Indonesia kecewa atas kekalahan ini.

Yang lebih mengecewakan lagi adalah disaat timnas kita sudah berjuang habis-habisan, sang pelatih (Wim) malah merendahkan pemainnya sendiri dan berkata bahwa pemain Indonesia tidak mempunyai bakat untuk bermain di luar negeri. Bodoh sekali pelatih kita ini. Seharusnya seorang pelatih mengangkat moral tim yang diasuhnya ketika tim-nya kalah bukan menjelek-jelakannya di depan pers. ‘Hei Meneer, walaupun pemain kami tidak pantas berlaga di luar negeri atau kancah internasional akan tetapi inilah skuad utama negeri kami. Kami memang merindukan prestasi, bagi kami tidak masalah timnas Indonesia menang atau kalah yang penting mereka tetap berjuang sampai tetesan keringat terakhir. Apapun hasilnya kami tetap bangga terhadap timnas kami. Pulanglah kau ke negaramu. Kau memang sangat payah.

Diketik ketika pertandingan Indonesia vs Bahrain berakhir.