Terinspirasi dari teman akrab saya semenjak tk yang sedang berkeluh kesah tentang jejaring sosial yang terkadang tidak berguna untuk sebagian orang yang sedang digantung oleh ketidakpastian.
Lucu memang bagaimana jejaring sosial bisa membuat emosi kita begitu fluktuatif.
Melihat seseorang yang kita idam-idamkan ternyata mempunyai "incaran" untuk membahagiakan dirinya sendiri dan menyakitkan karena kita tahu dari jejaring sosial.
Dia berpikir, saya juga berpikir.
Semua jalan terasa sesat di dalam gelap yang pekat.
Dia meracau dan saya hanya diam.
Dia meludah lalu mulai berfalsafah.
Perbincangan yang diselimuti suasana seperti ini membuat semuanya tidak komunikatif, pasif dan cenderung kontraproduktif.
Lalu, Dia menceritakan wanitanya, ceritanya begitu sederhana tetapi saya begitu terpana akan ceritanya.
Wanita yang berambut entah sepinggang ataupun sebahu atau mungkin diantara keduanya, wanita yang bermata indah dengan bibir tipis yang merah merekah.
Baru beberapa menit ia mendeskripsikan fisik wanitanya ia langsung terdiam lalu mendadak bisu dan semua terdengar ambigu.
Dia tertawa tapi penuh rekayasa.
Dia menunduk lalu duduk meringkuk.
Saya diam ...
Saya hanya bisa diam ...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar